Tampilkan postingan dengan label Love Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love Story. Tampilkan semua postingan

Karena Kamu Tulang Rusukku


Dada ini longar bila tanpa penyangga, dada ini akan terasa terhimpit bila tulang yang ada tak mampu mempu menopang desah nafas. Itulah tulang rusuk, tulang rusuk suami ada pada istri dan istri sebagai penopang kehidupan suami. Tak lantas beramarah bila rusuk itu kemudian susah untuk diluruskan, dan tak harus jenggah bila suami tak jua segera meluruskan. Yang dibutuhkan adalah pengertian, kesabaran dan saling memberi waktu untuk mengerti. Itulah hakikat cinta sejati pasangan suami-istri.

Karena Kamu Tulang Rusukku

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.

Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak,

“Kamu nggak cinta lagi sama aku!” Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak,

“Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!” Tiba-tiba Dara menjadi terdiam.

Berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar. Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali. Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. “Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing.”

Lima tahun berlalu. Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya. Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara. Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.

Raka : Apa kabar?
Dara : Baik… ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.

“Good bye….”

Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

“Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”
readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel

Cinta Sang Kupu-Kupu


Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang pria dan wanita yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum dan doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain.

Namun pada suatu hari, sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien. beberapa malam tidak sadarkan diri di rumah sakit. Siang hari sang wanita menjaga di depan ranjang dan dengan tiada henti memanggil-manggil kekasih yang tidak sadarkan diri itudan berdoa kepada Tuhan agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari. 

Seminggu telah berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur seperti dulu, sedangkan si wanita telah berubah menjadi pucat pasi dan lesu tidak terkira, namun ia tetap dengan susah payah bertahan dan akhirnya pada suatu hari, sorang wanita tua menghampirinya. Wanita tua itu lalu bertanya, "Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu sendiri untuk menyelamatkan kekasihmu?".

Tanpa mearasa ragu wanita itu menjawab, "Ya, saya bersedia demi keselamatannya".

Wanita tua itu lalu berkata lagi, "Baiklah, Aku bisa membantu kekasihmu untuk sembuh kembali. Namun ada satu syarat yang harus kamu lakukan, yaitu kamu harus menjadi kupu-kupu selama 3 tahun. Apakah kamu juga bersedia? Jika iya, temui aku di balik bukit itu malam hari nanti."

Mendengar hal itu si wanita merasa terharu, dan dengan jawaban yang pasti ia berkata, "Ya, saya bersedia!".

Hari telah terang, dan si wanita kini telah menjelma jadi seekor kupu-kupu yang indah. Ia mohon diri pada si wanita tua dan segera kembali  menuju rumah sakit tempat kekasihnya dirawat. Ternyata sangat luar biasa, kekasihnya benar-benar telah siuman bahkan ia sedang berbicara dengan seorang dokter wanita. Namun sayang, ia tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu hanya bisa memandang dari luar jendela yang terkunci rapat. 

Beberapa hari kemudian, lelaki kekasih kupu-kupu itu telah sembuh, namun ia sama sekali tidak bahagia karena kekasihnya telah menghilang. Ia bertanya  pada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang tahu di mana kekasihnya berada.

Lelaki itu sepanjang hari tidak makan dan istirahat, ia terus mencari. Ia begitu rindu kepadanya, begitu inginnya bertemu dengan sang kekasih, meski ia tidak tahu kini kekasihnya telah berubah menjadi kupu-kupu  yang setiap saat selalu berputar-puta di sampingnya.

Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu-kupu mau tidak mau harus meninggalkan tempat tersebut lalu terakhir kali ia terbang dan hinggap di atas bahu sang kekasih. Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil untuk membelai wajah sang kekasih, menggunakan mulutnya yang kecil lembut mencium keningnya. Namun tubuhnya yang kecil dan lemah benar-benar tidak boleh di ketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yang sedih hanya dapat di dengar oleh kupu-kupu itu sendiri, dan mau tidak mau dengan berat hati ia meninggalkan kekasihnya untuk terbang ke arah yang jauh dengan membawa harapan 3 tahun kedepan akan bersama lagi.

Dalam sekejap telah tiba musim semi yang kedua, sang kupu-kupu pun dengan tidak sabar segera terbang kembali mencari kekasihnya yang lama ia tinggalkan. Namun ternyata, di samping bayangan yang tak asing lagi baginya telah berdiri seorang wanita cantik. Dalam sekilas, sang kupu-kupu nyaris jatuh dari angkasa. Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depannya itu. Lebih tidak percaya lagi dengan omongan  banyak orang yang selalu menceritakan ketika tahun baru yang lalu, betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter wanita itu. Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka dan melukiskan sang lelaki sudah bahagia seperti dulu. 

Sang kupu-kupu sangat sedih. Beberapa hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya membawa dokter tersebut ke gunung untuk memandang matahari terbit, menghantar matahari senja di pesisir pantai. Sama seperti yang pernah di milikinya dulu. Dalam sekejap, tokoh utama dalam cerita cintaitu telah berganti seorang wanita lain. Sedangkan ia sendiri, tidak dapat berbuat apa-apa.

Musim panas tahun ini sangat panjang, sang kupu-kupu setiap hari terbang rendah dengan perasaan tersiksa dan ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati kekasihnya. Bisikan suara antara kekasihnya dengan wanita itu,  sudah cukup membuat hembusan napas dirinya berakhir.

Bunga bersemi dan layu. Bunga layu dan bersemi lagi. Bagi seekor kupu-kupu waktu seolah-olah hanya menandakan semua ini. Musim panas pada tahun ketiga, sang kupu-kupu sudah tidak sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya. 

Sang lelaki itu mendekap perlahan bahu si dokter wanita, mencium lembut wajahnya serta memeluknya. Sama sekali tidak punya waktu memperhatikan seekor kupu-kupu yang hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu. 

Tiga tahun perjanjian sang kupu-kupu sudah akan segera berakhir. Pada suatu hari, sesaat sebelum perjanjian itu berakhir, kekasihnya melaksanakan pernikahan dengan dokter wanita yang menjadi penggantinya itu. Sang kupu-kupu secara diam-diam masuk ke dalam tempat acara dan mendengarkan sang kekasih yang berikrar di hadapan Tuhan. Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan wanita itu dengan mesranya lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu-kupu. 

Dengan berat hati, ia pun pergi dari tempat itu, di tengah perjalanan ia bertemu dengan wanita tua yang dulu menmbantunya menyelamatkan jiwa sang kekasih. Wanita itu bertanya kepadanya, "Apakah kamu menyesal dengan yang telah kamu pilih...?"

Sambil mengeringkan air matanya, sang kupu-kupu menjawab. "Tidak, saya tidak akan menyesal."

Wanita tua itu berkata lagi, "Besok kamu sudah dapat kembali menjadi dirimu semula, apakah kamu senang."

Sambil mengelengkan kepalanya kupu-kupu itu berkata, "Biarkanlah aku menjadi kupu-kupu untuk selamanya."

Ada kehilangan merupakan takdir, dan ada beberapa pertemuan adalah yang tidak akan berakhir. Mencintai seseorang tidak harus memiliki, namun memiliki seseorang harus baik-baik menjaganya.

readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel

Kekuatan Cinta


Kisah ini adalah kejadian nyata yang terjadi di China, tentang seorang laki-laki mencintai seorang wanita yang  jauhlebih tua darinya, rela melarikan diri agar dapat hidup bersama dan saling mengasihi dalam kedamaian selama setengah abad. Laki-laki itu berusia 70 tahun dan telah memahat 6000 anak tangga dengan tangannya  sendiri untuk isterinya yang berusia 80 tahun. Ia meninggal dunia di dalam sebuah goa yang selama 50 tahun terakhir menjadi tempat tinggal mereka.

50 tahun yang lalu, Liu Guojiang, pemuda 19 tahun, jatuh cinta pada seorang janda 29 tahun bernama Xu Chaoqin. Ia mendapat celaan dari teman-teman dan kerabatnya mengenai hubungannya itu karena perbedaan usia dan kenyataan bahwa Xu sudah memiliki beberapa orang anak.

Pada masa itu seorang pemuda mencintai wanita yang lebih tua, tidak bisa diterima dan dianggap tidak bermoral. Untuk menghindari gossip dan celaan dari lingkungannya, pasangan itu lalu memutuskan pergi dan tinggal di sebuah goa yang terletak di Desa Jiangjin, sebelah selatan Chong Qing.

Pada mulanya kehidupan mereka sangat menyedihkan karena tidak punya apa-apa, tidak ada listrik atau pun makanan. Untuk bisa bertahan, mereka harus memakan rerumputan dan akar liar yang mereka temukan di gunung itu. Dan Liu membuat sebuah lampu minyak tanah untuk menerangi mereka.

Xu selalu merasa bahwa ia telah mengikat Liu dan berulang-kali bertanya,"Apakah kau menyesal?" Liu selalu menjawab, "Selama kita rajin, kehidupan ini akan menjadi lebih baik".

Setelah dua tahun tinggal di sana, Liu mulai memahat beberapa anak tangga agar isterimya dapat turun gunung dengan mudah. Dan ini berlangsung terus selama 50 tahun.

Setengah abad kemudian, di tahun 2001, sekelompok pengembara melakukan explorasi ke hutan itu. Mereka terheran-heran menemukan pasangan usia lanjut dan juga 6000 anak tangga yang telah dibuat Liu.

Liu Ming Sheng, satu dari 7 orang anak mereka mengatakan, "Orang tuaku saling mengasihi, mereka hidup menyendiri selama lebih dari 50 tahun dan tak pernah berpisahkan walau hanya sehari pun. Selama itu ayah telah memahat 6000 anak tangga untuk menyenangkan hati ibuku, walau pun ia tidak terlalu sering turun gunung.

Pasangan ini hidup dalam damai selama lebih dari 50 tahun. Suatu hari Liu yang sudah berusia 72 tahun pingsan ketika pulang dari ladangnya. Xu duduk dan berdoa bersama suaminya sampai Liu akhirnya meninggal dalam pelukannya. Karena sangat mencintai isterinya, genggaman Liu sangat sukar dilepaskan dari tangan Xu, isterinya.

"Kau telah berjanji akan menjagaku dan akan terus bersama sampai akan meninggal, sekarang kau telah mendahuluikun, bagaimana akan dapat hidup tanpamu?"

Selama beberapa hari Xu terus-menerus mengulangi kalimat ini sambil meraba peti jenasah suaminya dengan air mata yang membasahi kedua belah pipinya.

Pada tahun 2006 kisah ini menjadi salah satu dari 10 kisah cinta yang terkenal di China, yang dikumpulkan oleh majalah Chinese Women Weekly.

Pemerintah telah memutuskan untuk melestarikan "anak tangga cinta" itu, dan tempat kediaman mereka telah dijadikan musium agar kisah cinta ini dapat terus hidup.

readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel

Sahabat dan Cinta


Saat pertama kali bertemu, aku sudah terpesona dengannya. Postur yang tinggi, kulitnya putih dan wajahnya yang tampan telah membuatku ingin mengenal jauh tentang dirinya.

Dia adik kelasku, namanya Bima. Saat itu aku hanya kagum kepadasnya tanpa memiliki perasaan apa pun kepadanya. Aku hanya menganggapnya sebagai adik, meski aku tidak tahu bagaimana perasaannya  sendiri kepadaku.

Hari terus berjalan, semakin hari aku semakin dekat dengannya. Kami saling menyapa bila bertemu dan bila aku ke Perpustakaan dia juga ke sana. Saat aku sakit, dia terus menerus menanyakan kabarku pada Bahri,  adik sepupuku. Kebetulan mereka saling mengenal meski bukan berasal dari kelas yang sama.

Dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ada perasaan aneh di hatiku. Hatiku bergetar saat bertemu dengannya. Hatiku damai saat melihat senyumnya. Dan mulai saat itu aku berpikir, "apa ini yang namanya CINTA?"

“Ke kantin yuk” ajak sahabatku Noni saat bel istirahat berbunyi.

“Ayo..., kebetulan aku lapar” sahutku sambil bernjak dari tempat duduk.

Di kantin sambil melahap bakso, Noni bertanya padaku. “Kamu kenal Bima yang dari kelas 2 IPA?” tanyanya.

“Iya, kenapa ?” tanyaku dengan heran kenapa tiba-tiba dia bertanya mengenai Bima.

“Dia temannya Bahri kan? Tolong ya tanyakan semuanya tentang Bima ke dia. Alamat rumah, telepon rumah, no hp, dan….” Belum selesai dia melanjutkan kata-katanya, aku langsung tersedak.

“Pelan-pelan kalau makan” ujar Noni sambil mengusap pungungku.

Aku langsung tersenyum padanya. “Hayo !!! Kamu suka ya sama Bima?” ledekku. 

Noni memang sahabatku, tapi aku tidak pernah cerita padanya kalau aku juga suka sama Bima. Aku juga belum pernah cerita padanya kalau Bima sering sms-an denganku.

Dia sangat senang sekali ketika aku berjanji untuk membantunya supaya bisa kenal lebih dekat dengan Bima. Aku ingat ketika aku susah dia selalu membantuku maka sekarang giliranku untuk membantunya.

Kukenalkan Noni dengan Bima, kuberi nomor hp-nya. Mereka pun mulai berhubungan dan aku sangat senang sekali karena kini mereka mulai akrab. Mendengar dan melihat sahabatku gembira maka aku juga ikut gembira.

***

Selama KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) berlangsung, Noni tampak murung. Terlihat dari wajahnya dia tidak konsentrasi pada pelajaran. Aku biarkan dia seperti itu sampai proses KBM selesai.

“Kamu kenapa Non ?” tanyaku dengan penasaran.

“Aku lagi marah sama kamu dan Bima”, jawab Noni dengan berjalan keluar kelas.

“Marah sama aku dan Bima? Masalahnya apa?”, tanyaku sambil membuntuti Noni yang melangkah ketempat duduk di depan kelas.

“Rupanya aku hanya di buat jembatan antara kamu dan Bima, pantas saja kamu dengan senang hati memperkenalkan Bima padaku” kata Noni dengan nada marah.

“Jembatan, jembatan apa? Bima mengatakan apa sama kamu, aku tidak mengerti maksudmu Non”, tanyaku dengan heran.

“Sudahlah tidak usah munafik, kamu bilang hubunganmu dengan Bima hanya sebatas adik dan kakak. Tapi……” Dia terhenti dengan kata-katanya. Air matanya pun menetes dan membuatku tambah bingung.

“Tapi apa?” aku tidak sabar ingin tahu permasalahannya.

Dia menyodorkan hpnya padaku. “Baca, ini sms dia kemarin...!!”
Aku menyukainya, aku sangat menyayanginya.  Aku ingin hubunganku dengannya lebih dari sekedar kakak adik. Kamu mau kan bantu aku. Dan satu lagi, aku minta fotonya.Terima kasih ya teman.
“Kamu tega mempermainkan perasaanku, kamu tega mempermalukanku di depan Bima. Kamu bukan sahabatku lagi. Seorang sahabat tidak akan menyakiti sahabatnya sendiri”, Kata Noni sambil berlari masuk ke dalamn kelas.

Aku hanya diam membisu mendengar perkataan Noni itu. Sebetulnya aku tidak peduli Noni marah-marah padaku. Yang ada dipikirannku hanya Bima. Sejuta tanya di hatiku, apa dia juga merasakan apa yang aku rasakan?

“Haii...”, sapa Ana dan Wati tiba-tiba saat keluar dari kelas.

“Kenapa Ning, Kok Noni sepertinya habis nangis. Kalian bertengkar ya? Sampai-sampai Noni jadi seperti itu?” tanya Wati padaku.

“Tidak Wat, cuma salah paham. Sudahlah ayo kita masuk bel sudah berbunyi” aku menggandeng tangan Wati dan Ana memasuki kelas.

Aku hanya diam dan melamun saja. Saat itu aku benar-benar tidak menyangka akan jadi sepeti ini. Jadi saat itu kubiarkan kemarahan Noni tertumpah padaku dan juga tuduhan-tuduhannya itu, walaupun hatiku sakit mendengar kata-katanya itu.

Setelah bel berbunyi tanda istirahat tiba, saat itu juga aku mencari Bima di Perpustakaan untuk mengetahui kebenaran dari semua yang telah terjadi. Ternyata benar, Bima ada di sana. Aku lalu menghampirinya yang sedang duduk dipojok ruangan.

“Bima, kamu sms apa sama Noni, kenapa dia sampai begitu marah padaku?” tanyaku mengagetkannya.

“Eh…. kamu Ning, duduk dulu nanti kuceritakan yang sebenarnya padamu”, jawab Bima dengan santai.

“Aku hanya minta tolong padanya untuk memintakan fotomu, apa itu salah? Dan Noni juga tanya, apa sebenarnya perasaanku padamu. Ya... Aku jawab kalau sebenarnya aku menyukaimu tapi aku takut mengatakannya, takut kamu marah” jelas Bima panjang lebar.

Aku terkejut mendengar penjelasannya. Aku juga bingung, disatu sisi aku suka padanya tapi di sisi lain ada sahabatku yang juga mempunyai perasaan yang sama.

“Aduh Bima, kenapa ngomong begitu sama Noni”, tanyaku.

“Kenapa ?” Tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

“Tapi…, Noni menyukaimu, apa kamu nggak merasa sikapnya yang begitu perhatian sama kamu” ucapku.

Bima mendekatkan kursinya padaku, dan meraih tanganku yang tergeletak di atas meja. Sambil menatap mataku ia berucap perlahan. “Aku menganggap Noni hanya temen biasa, kalaupun dia memberi perhatian lebih sama aku karena dia menyukaiku, itu hak dia. 

Aku tidak bisa merubah perasaanku padanya” Matanya masih tetap memandangku membuatku semakin salah tingkah. “Bim..., tapi aku ini kakakmu dan kita cuma teman”, kataku pada Bima sambil sesekali menatap matanya yang tajam.

“Kenapa ? kamu tidak suka sama aku. Apa ada perbedaan usia dalam cinta?” Tangannya menggenggam tanganku semakin erat dan tatapannya semakin tajam yang membuat hatiku berdebar. Aku bingung harus mengatakan apa padanya. Tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulutku.

“Kalau kamu anggap aku salah dan kurang sopan telah mencintai kakak kelas. Aku tidak memaksamu untuk menyukaiku dan membalas cintaku, tapi aku mohon jangan kamu paksa aku untuk menyukai sahabatmu. Karena aku tidak mengobral cintaku. Jangan sok jadi Pahlawan kalau hatimu sengsara. Aku tunggu jawabanmu segera”, Bima pergi meninggalkanku yang masih terdiam membisu.

Tidak terasa hari beranjak siang, bel berbunyi pertanda jam sekolah sudah usai. Ketika aku berjalan sampai di depan gerbang sekolah aku melihat Bima, dia tersenyum padaku. Akupun membalas senyumannya. Dalam perjalanan pulang aku tidak henti-hentinya memikirkan apa yang dikatakan Bima. Nampak ada suatu kemarahan yang tersirat dalam perkataanya, terbukti ia mengatakan bahwa dia tidak megobral cinta.

Sesampainya di rumah aku masih memikirkan bagaimana caranya untuk menyatukan Noni dengan Bima. Sedangkan belum kukatakan maksudku dia sudah mengunciku dengan kata-kata jangan jadi Pahlawan dan dia tidak mengobral cinta. Aku sangat bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin mengorbankan persabatanku dengan Noni hanya karena Bima. Jika aku menerima Bima jadi kekasihku, aku pasti akan kehilangan sahabatku. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Bima.

“Hallo.. Bimanya ada ?” tanyaku.

“Ada apa Ning, apa kamu sudah siap menjawabnya sekarang?” Ternyata dia sudah hafal dengan suaraku.

“Bim,kamu jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk menjalin hubungan denganku. Bukankah Noni juga sangat baik dan sangat perhatian padamu”, aku berharap Bima tidak marah dengan ucapanku.

“Sudahlah Ning, aku sudah tahu dan sangat mengerti maksudmu. Tidak usah basa-basi, katakan saja kamu menolakku karena kamu anggap aku tidak pantas denganmu, aku masih kecil. Tidak usah mencari alasan dengan menjodohkan aku dengan sahabatmu.”

Lalu tidak terdengar lagi suara Bima, dia sudah menutup telponnya. Baru kali ini dia marah padaku. Hatiku sakit. Aku sayang padanya, aku tidak ingin kehilangan dia tapi aku juga tidak ingin kehilangan sahabatku.

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang, kubiarkan air mataku terus menetes dan dengan perlahan kucoba memejamkan mata.

***

Pagipun kembali datang. Matahari mulai menampakkan wajah terangnya di bumi. Kembali aku seperti biasanya. Pergi ke Sekolah, dengan membawa kebimbangan hati. Dari jauh kulihat Noni, setelah aku hampir mendekatinya dia pindah tempat. Aku tahu dia memang sengaja menghindariku. Mungkin dia masih marah padaku. Sampai di depan pintu kelas, Wati dan Ana menghadangku.

“Ningsih, sebentar aku mau bicara”, kata Wati seraya menarik tanganku agar duduk di sebelahnya.

“Ada apa, serius amat kalian ini?” tanyaku, aku berusaha bersikap tenang pada mereka.

“Sebentar Wat, kita ucapkan selamat dulu pada teman kita ini”, kata Ana dengan senyum-senyum.

“Selamat.... Untuk hal apa?”, tanyaku sedikit heran.

“Oh... iya, Selamat ya... Kamu sudah jadian sama anak kelas satu yang cakep itu. Tapi kamu jahat, kamu nggak pernah cerita sama kita, takut cowoknya diambil sama kita yah...?,” ledek Wati.

“Jadian sama Bim ?” aku semakin tidak mengerti maksud mereka.

“Kata Noni kamu sudah jadian sama Bima dan kemarin kita juga lihat kamu keluar dari Perpustakaan dan sebelumnya juga Bima keluar dari sana.” ucap Ana dengan semangat.

“An, itu tidak benar. Aku bertemu dengan Bima di Perpustakaan kemarin untuk menjernihkan masalah,” jawabku.

“Sudahlah Ning, kami sudah tahu semua masalahmu dengan Noni. Kalau kamu menyukai Bima terima saja dia.” saran Ana.

“Apa kalian akan mengorbankan kebahagiaan Noni? Apa aku bisa bahagia di atas kesedihan orang lain?” ucapku dengan menahan emosi.

“Sudahlah ayo masuk dulu, kalian tidak dengar bel sudah berbunyi”, Wati menarik tanganku.

Di dalam kelas Noni tidak menoleh sedikitpun padaku. Keadaan kelas nampak sepi. Mereka nampak serius mendengarkan Guru Matematika yang sedang membahas soal yang begitu rumit. Cuma pikiranku saja yang tidak menyatu dengan mereka.

Akhirnya bel istirahat berbunyi. Aku, Wati, dan Ana pergi kekantin sementara Noni memang sengaja tidak ikut.

“Ning, lihat itu Bima, kelihatannya dia juga mau kekantin. Wah… An, nampaknya mereka sudah sehati. Ningsih ke Perpustakaan Bima juga kesana. Sekarang Ningsih ke kantin, Bima juga ke kantin. Jangan-jangan kalian janjian. Kita jadi mengganggu aja,” kata Wati dengan senyum-senyum meledekku.

“Janjian ? Aku nggak janjian sama Bima,” jawabku.

“Oh… jadi ceritanya cuma kebetulan saja !” kata Wati dan Ana dengan kompak. 

Sesampainya di kantin, Bima juga sampai di sana. Tapi anehnya dia tidak menoleh sedikitpun padaku. Dia sengaja berpura-pura tidak melihatku. Ana dan Wati sama-sama memandangku dengan rasa heran melihat sikap Bima yang seolah-olah tidak mengenalku.

Setelah makan bakso selesai Ana dan Wati mengajakku duduk di dekat kantin yang kebetulan di sana ada bangku kosong dan juga sepi. Mereka kembali mengintrogasiku. “Ning, kenapa Bima cuek sama kamu. Apa kamu sudah menyakitinya”, tanya Ana dengan penasaran.

“Mungkin juga An. Aku menyuruhnya untuk menyukai Noni dan jangan menyukaiku”, jawabku.

“Hah… kamu gila, kamu menolak cinta Bima. Padahal banyak yang antri untuk merebut hatinya. Aku saja tidak akan menolak jika dia menyatakan cinta padaku. Sayang sekali kalau cowok cakep seperti dia dibiarkan lewat begitu saja”, kata wati sambil tertawa.

“Huh… dasar, memang kamu saja Wat yang nggak bisa lihat cowok cakep. Lalu Ning, cuma itu alasanmu menolak cinta Bima?” tanya Ana.

“Ya… cuma itu, aku bingung. Lagian hubunganku selama ini cuma sebatas kakak dan adik”, kataku.

“Ning, sebuah hubungan bisa berubah kapan saja asalkan didasari oleh perasaan saling menyayangi dan mencintai. Musuh saja bisa menjadi sepasang kekasih bila diantara mereka ada perasaaan mencintai. Sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur. Apakah kamu sayang sama Bima? Apa kamu bisa merelakan Bima jalan sama Noni sementara hatinya tersiksa gara-gara dia tidak mencintai Noni? Apa kamu memang sengaja menyakiti hati Bima?”, kata Noni dengan pandangannya yang mendalam padaku.

“Tentunya tidak, aku tidak ingin menyakiti Bima. Aku juga tidak ingin dia bersikap seperti itu padaku.”, kataku dengan menunduk.

“Nah…, berarti kamu mencintai Bima. Tapi kamu tidak membiarkan cintamu itu tumbuh. Sekarang coba kamu pikir, menurutmu apakah kamu sudah berjasa telah menyatukan Noni dengan Bima. Bagaimana jika nanti mereka jadian, tidak lama kemudian Bima memutuskan Noni. Apakah Noni tidak sedih. Lebih baik kita bunuh cinta Noni sekarang daripada nanti dia lebih dalam luka dihatinya. Noni harus terima kenyataan kalau cintanya tidak bersambut. Sudahlah Ning, terima saja cinta Bima. Nanti biar aku dan Wati yang akan menyadarkan Noni. Ini demi kebaikan kalian berdua”

Perkataan Ana membuat hatiku sedikit lega. Tapi aku masih tidak yakin. Aku tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka. Aku takut Noni tidak mau memaafkan aku dan aku juga takut Bima menjauhiku. Aku sangat sayang keduanya.

Seminggu sudah berlalu dari hari dimana aku diberi ceramah sama Ana dan Wati. Dalam waktu seminggu itu aku tidak berbuat apa-apa.

Hari itu sekolah mengadakan rapat untuk membahas pelaksanaan UAN (Ujian Akhir Nasional) bagi anak kelas tiga. Jadi hari itu tidak ada pelajaran, tapi siswa tidak boleh pulang. Seperti biasa aku pergi ke Perpustakaan dan berharap ada Bima di sana. Aku sangat rindu padanya. Berhari-hari dia mengabaikan aku.

Sesampainya disana aku tidak menemui Bima. Tapi aku tetap masuk saja untuk sekedar membaca buku. Tidak lama aku duduk, ada suara langkah kaki mendekatiku. Dan dia memengang pundakku kemudian duduk di sebelahku.

“Hai…Ning, maaf aku mengganggu”. Aku menoleh kearahnya.

“Hai …Non, kamu tidak menggangguku justru aku sangat bahagia kamu mau bicara lagi padaku”.

“Ning, aku kesini mau minta maaf sama kamu. Selama ini aku yang egois. Aku bertinggkah seperti anak kecil dan aku tidak pantas disebut sebagai sahabat. Karena aku sudah menyakitimu dengan menghalangi cintamu pada Bima. Untung Ana dan Wati segera menyadarkan aku.” Ucap Noni dengan penuh penyesalan.

“Sudahlah Non, aku sudah memaafkanmu dan aku tidak marah padamu”, kataku sambil memeluk Noni.

“Eh…, aku punya kejutan, tapi kamu harus tutup mata dulu. Ok!!!”, kata Noni sambil melepaskan pelukanku.
“Apa?” tanyaku penasaran.

“Sudahlah kamu tunggu sebentar ya....!”, kata Noni seraya meninggalkan aku.

Tidak lama kemudian ada seseorang memegang mataku dari belakang. Ternyata setelah kubuka tangannya, orang itu adalah Bima. Aku sangat terkejut hingga aku diam bagaikan patung. Dan Noni meraih tanganku kemudian menyatukannya dengan tangan Bima. Aku sangat bahagia. Aku peluk Noni dan tidak terasa air mataku menetes dipundak Noni begitu juga dengannya. Terdengar bisikan Noni yang mengatakan, “Aku adalah sahabatmu selamanya."

Sumber: www.yusmalida.co.cc
readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel

Burug-Burung Kertas


Sumber gambar: hobikitkertas.com 
Sewaktu Jhony dan Leony baru berpacaran, Jhony melipat 1000 burung kertas dan memberikannya kepada Leony sebagai hadiah. Jhony berkata, jika 1000 burung kertas itu merupan 1000 ketulusan hatinya kepada Leony. 

Leony sangat menyukai burung-burung kertas itu dan menyatakan bahwa ia sangat berbahagia. Leony juga pernah menyatakan bahwa ia sangat ingin sekali tinggal di Paris bersama Jhony, baginya Paris sangatlah indah dan cocok untuknya. 

Setiap saat mereka selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka berdua. Kemana-mana mereka selalu bersama, dan mereka membuat banyak orang lain merasa iri akan kemesraan mereka. Sampai suatu ketika, Leony berubah, ia mulai menjauhi Jhony. Bahkan ia memutuskan untuk menikah dan akan tinggal di Paris bersama suaminya. 

Sewaktu mereka akan berpisah, Leony sempat berkata sesuatu kepada Jhony, “Kita harus melihat dunia ini dengan pandangan ke depan. Menikah bagi seorang wanita adalah kehidupan kedua kalinya. Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik. Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan kita setelah menikah nanti!” 

Jhony sangat terpukul, dia tidak menyangka Leony bisa berlaku seperti itu. Jhony merasa sangat frustasi, dan peristiwa ini juga membuat perubahan besar pada prilakunya. Perlahan dalam hatinya, ia mulai membenci Leony. Ia pun bertekad suat saat nanti akan menjadi orang kaya dan sukses, agar Leony menyesal telah mencampakannya. 

Jhony pun mulai bekerja keras, dia pernah menjual koran, menjadi karyawan lepas di sebuah rumah makan, bisnis kecil, setiap pekerjaan dia kerjakan dengan sangat baik dan tekun. 

Setelah beberapa tahun kemudian, karena pertolongan teman dan kerja kerasnya, akhirnya Jhony mempunyai sebuah perusahaan besar. Kini ia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Leony, dia masih tidak dapat melupakannya sedikit pun. 

Pada suatu hari di tengah hujan lebat, Jhony tengah mengendarai mobilnya di sebuah pedesaan. Dari dalam mobil ia melihat ada sepasang orang tua tengah berjalan sangat pelan di depannya. Dia mengenali mereka, mereka adalah orang tua Leony. 

Dalam hatinya, ingin sekali ia menunjukan kepada mereka kalau sekarang ia tidak hanya mempunyai mobil pribadi, tetapi juga mempunyai Vila dan perusahaan sendiri. Ia ingin mereka tahu kalau ia bukan seorang yang miskin lagi, ia sekarang adalah seorang Bos sebuah perusahaan besar. 

Jhony mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang tua tersebut. Hujan terus turun, tanpa henti, biarpun kedua orang tua itu memakai payung, badan mereka tetap basah karena hujan. 

Sewaktu mereka sampai tempat tujuan, Jhony tercengang oleh apa yang dilihatnya, itu adalah tempat pemakaman umum dan di sana terdapat sebuah batu nisan bertulisan sebuah nama yang sangat ia kenal ‘Leony’. 

Di samping makamnya yang kecil, tergeletak burung-burung kertas yang mulai hancur terkena air hujan. Tapi di mata Jhony, burung-burung kertas itu seakan terlihat begitu hidup. 

Orang tua Leony memberitahu Jhony, sebenarnya Leony tidak pergi ke paris, tapi Leony terserang kanker ganas. Leony ingin Jhony menjadi orang yang sukses, dan mempunyai keluarga yang harmonis tanpa memikirkan keadaanya. Maka dengan terpaksa ia berbuat demikian terhadap Jhony dulu. Leony bilang, dia sangat mengerti Jhony, dia percaya kalau Jhony pasti akan berhasil meski tanpanya. Leony juga mengatakan, kalau pada suatu hari nanti Jhony pasti akan datang menjenguk makamnya dan ia berharap, Jhony membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi. 

Mendengar hal itu, Jhony langsung berlutut di depan makam Leony, ia menangis dengan begitu sedihnya. Ternya wanita yang selama ini ia benci sangat memperhatikaannya, bahkan rela membuang kebahagiaannya demi keberhasilan Jhony. 

Hujan pada hari itu terasa tidak akan berhenti, tetesan-tetesan air terus membasahi sekujur tubuh Jhony. Jhony teringat senyum manis Leony yang begitu manis dan polos. Dalam hatinya ia berdoa, “Tuhan, meski tidak Engkau kau kumpulkan kami berdua di bumi ini. Aku berharap Engkau mau mengumpulkan kami di surga nanti.”

readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel

Ketika Ketulusan Cinta yang Berbicara


Diusianya yang kini 58 tahun, pak Suyatno mengisi hari-harinya dengan merawat sang istri yang telah dinikahinya lebih dari 32 tahun lalu. Mereka dikarunia empat orang anak, di sinilah awal cobaan itu menerpa kehidupan mereka. 

Setelah sang istri melahirkan anak mereka yang ke-empat, tiba-tiba kaki sang istri lumpuh dan tidak bisa digerakkan, itu terjadi selama kurang lebih dua tahun lamanya. Menginjak tahun ke-tiga penyakitnaya pun kian parah, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak Suyatnolah yang merawat sang istri. Ia memandikan, menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum ia berangkat untuk bekerja setiap harinya, pak Suyatno selalu menempatkan sang istri di depan televisi, hal itu ia lakukan agar sang istri tidak merasa kesepian saat ditinggalkan. Untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya, sehingga setiap siang ia pun dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Ketika sore sepulang dari tempat usahanya, pak Suyatno memandikan sang istri, dan selepas maghrib ia menemaninya untuk menonton televisi sambil menceritakan apa saja yang dialaminya seharian ini.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tanpak bisa menanggapi, pak Suyatno sudah cukup senang dengan semua itu. Ia selalu mengajak istrinya bercanda, bahkan menggodanya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini sudah dilakukan pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan sabar ia merawat sang istri, bahkan sambil membesarkan ke-empat buah hati mereka. Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa dan berumah tangga sendiri, hanya si bungsu saja yang masih kuliah.

Pada suatu hari, ke-empat anak pak Suyatno berkumpul di rumah orang tuanya sambil menjenguk sang ibu. Karena setelah anak mereka menikah, mereka tinggal dengan keluarga masing-masing. Dan pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia saja yang merawatnya.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak pertamanya berkata "Pak, kami ingin sekali merawat ibu. Semenjak kami masih kecil sampai sekarang, bapaklah yang selalu merawat ibu tanpa pernah mengeluh. Bahkan bapak tidak mengijinkan kami menjaga ibu." Dengan air mata berlinang, si sulung melanjutkan, “sudah empat kali juga kami mempersilahkan bapak untuk menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kami berpikir, kapan bapak menikmati masa tua bapak jika setiap haria hanya untuk berkorban seperti ini. Kami sudah tidak tega melihatnya, kami berjanji akan merawat ibu sebaik-baiknya jika menikah lagi."

Dengan lembut pak Suyatno menjawab. "Anak-anakku, jikalau pernikahan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak sudah menikah lagi. Tetapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di samping bapak, itu sudah lebih dari cukup membahagiakan bapak. Coba kalian tanya ibu kalian, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini! Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibu kalian dengan keadaanya seperti sekarang? Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan ini untuk dirawat orang lain, tapi bagaimana dengan ibu kalian yang sakit?” 

Mendengar hal itu, anak-anak pak Suyatno merasa terharu, butiran-butiran kecil pun jatuh di pelupuk mata mereka. Dengan pilu, ditatapnya mata ayah mereka yang sangat mencintai ibunya.

Sampailah suatu ketika, pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun televisi swasta sebagai nara sumber di acara mereka. Di tengah acara, mereka mengajukan sebuah pertanyaan kepada pak Suyatno, "Kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istri yang sudah tidak bisa apa-apa."

Dengan perasaan haru ia bercerita. "Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam pernikahannya, tetapi tidak mau memberikan waktu, tenaga, pikiran, serta perhatiannya untuk pernikahan mereka, maka itu semua adalah kesia-siaan. Saya memilihnya menjadi pendamping hidup saya. Dulu saat dia sehat, dengan sabar ia merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama, dan itu merupakan ujian bagi saya apakah dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehat pun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi saat dia seperti sekarang ini."

readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel

Janji Cinta


Jam menunjukan pukul enam kurang enam menit di Stasiun Kereta Api Grand Central. Seorang Letnan Angkatan Darat yang bertubuh jangkung dan berwajah tampan, baru saja datang dari arah rel kereta. Ia mengangkat wajahnya yang tebakar matahari, matanya memicing untuk melihat keadaan di sekitarnya. Jantungnya berdebar keras, karena enam menit lagi, ia akan bertemu dengan wanita yang telah mengisi tempat istimewa dalam hatinya selama beberapa bulan terakhir ini. Seorang wanita yang belum pernah ia temui, hanya melalui surat yang ia terima.

Letnan Steven teringat, suatu malam ia bermimpi pesawatnya terperangkap di tengah sekelompok tentara Nazi. Ia melihat wajah salah seorang pilot musuh yang menyeringai. Dalam salah satu suratnya, ia mengakui pada sahabat penanya ini bahwa ia sering merasa takut, dan hanya beberapa hari sebelum pertempuran itu, ia menerima jawaban surat dari kekasihnya: “Tentu saja kamu takut, semua pria pemberani pun begitu. Lain kali, saat kamu meragukan dirimu, aku ingin kamu mendengar suaraku membacakan puisi ini, Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Tuhan besertaku”. Dan ia ingat, ia mendengar khayalan suaranya, dan suara itu memperbaharui kekuatan dan keterampilannya. Sekarang ia akan mendengar suara aslinya.

Pukul enam kurang empat menit, wajahnya menjadi semakin tegang. Tiba-tiba, seorang gadis mendekatinya, dan Letnan Steven tersentak. Gadis ini memakai sebuah bunga merah pada kelepak jasnya, tapi bunganya adalah bunga buncis merah, bukan mawar merah kecil yang sudah mereka sepakati. Lagipula, gadis itu masih kelihatan terlalu muda, mungkin sekitar 18 tahun umurnya. Sedangkan Linda Rose kekasihnya waktu itu mengatakan ia sudah berumur 30 tahun.

Pikirannya kembali pada saat pertama kali ia mengenal kekasihnya itu dari sebuah buku di antara ratusan buku perpustakaan Angkatan Darat yang dikirim ke kamp latihan Florida. Of Human Spirit judulnya, dan di seluruh buku itu ada catatan yang ditulis dengan tulisan wanita. la selalu membenci kebiasaan mencoret-coret buku, tapi kata-kata ini berbeda. Ia tak pernah menyangka bahwa seorang wanita dapat memandang ke dalam hati seorang pria dengan begitu lembut, begitu pengertian. Nama pemilik buku itu tertulis pada sampulnya, yaitu Linda Rose.

Ia lalu mencari nama itu di buku telepon New York City dan ia berhasil menemukan alamatnya. Ia menyuratinya, dan wanita itu membalas. Hari berikutmya ia dikirim ke medan perang, tapi mereka melanjutkan surat-menyurat. Selama 13 bulan, wanita itu dengan setia membalas. Dan lebih dari sekedar membalas, saat surat si letnan tidak tiba, wanita itu tetap menulis surat untuknya. Dan sekarang letnan Steven  yakin, bahwa ia mencintai wanita itu dan wanita itu mencintainya.

Tapi wanita itu menolak semua permintaannya untuk mengirimkan foto. Tentu saja hal itu terasa kurang baik, tapi melalui suratnya, wanita itu menjelaskan, “Kalau perasaanmu terhadapku sungguh-sungguh dan berdasarkan ketulusan hati, maka seperti apapun wajahku tidak akan menjadi masalah bagimu. Misalnya aku memang cantik, aku akan selalu dihantui perasaan bahwa kamu mengambil keputusan berdasarkan hal itu, dan cinta semacam itu membuatku jijik. Misalkan aku biasa-biasa saja (dan kamu harus mengakui bahwa ini lebih mungkin), lalu aku akan selalu cemas bahwa kamu terus menyuratiku karena kamu kesepian dan tak punya orang lain. Jangan, jangan minta fotoku. Kalau kamu datang ke New York, kamu bisa menemuiku, lalu kamu dapat mengambil keputusan. Ingat, kita berdua bebas untuk menghentikan atau melanjutkan persahabatan kita, apa pun yang kita pilih.”

Pukul enam kurang satu menit, hati Letnan Steven berdebar keras. Tiba-tiba, seorang wanita muda yang cantik melangkah ke arahnya. Tubuhnya tinggi dan ramping, rambut pirang mengikal dari sepasang telinganya yang indah. Matanya biru bagai cahaya di kejauhan, dagunya tegas namun lembut. Dalam pakaian hijau muda, ia tampak seperti penjelmaan musim semi. Ia melangkah ke arah wanita itu, namun sekali lagi ia salah, ia benar-benar lupa bahwa wanita itu bukanlah kekasihnya karena ia tak memakai bunga mawar merah di dadanya sesuai janji yang mereka sepakati.

Di belakang wanita cantik berbaju hijau itu, ia melihat seorang wanita lain, "apakah itu kekasih yang belum pernah ku temui itu?" pikirnya. Sejenak Letnan Steven tertegun, ia melihat seorang wanita tua berusia 50 tahunan, rambutnya beruban dengan memakai topi tua, dan tubuhnya sangat gemuk. "Benarkah wanita ini Linda Rose kasihku? tapi ia benar memakai mawar merah kecil di dadanya."

Gadis cantik berbaju hijau tadi bergegas pergi. Letnan Steven merasa seakan hatinya terbelah. Ingin sekali mengikuti perginya wanita cantik berbaju hijau tadi. Namun begitu dalam kerinduannya untuk menemui Linda Rose, kekasih yang belum pernah dilihatnya itu. Wajahnya yang pucat terlihat lembut dan bijak, ia melihat mata yang berkelip hangat dan ramah. Letnan Steven tak ragu lagi, ia menggenggam buku Of Human Spirit berkulit biru usang yang menjadi tanda menemui kekasihnya itu.

Ini mungkin takkan menjadi cinta, tapi akan menjadi suatu pertemuan yang berharga daripada kisah cinta biasa yang semuanya akan ia syukuri. Letnan Steven menegakkan bahunya yang lebar, memberi hormat dan menyodorkan buku itu pada si­ wanita. Meski sebenarnya ada sedikit rasa kecewa, namun ia tetap bicara, “Saya Letnan Steven, dan ibu pasti Rose. Saya senang kita bisa bertemu. Bolehkah saya mengajak ibu makan malam sesuai janji kita?”

Wajah wanita tua itu tersenyum sabar dan berkata “Nak, ibu tak tahu ini masalah apa? tapi wanita cantik berbaju hijau yang baru saja melewatimu tadi memohon padaku agar memakai mawar ini. Ia meminta ibu  untuk menemuimu. Katanya, kalau kamu mengajak ibu makan malam, maka ibu harus memberitahumu bahwa ia kini menunggumu di rumah makan besar di seberang jalan. Ini adalah ujian katanya, dan ibu tidak keberatan menolongnya. Cepatlah Nak, ia menunggumu.”

readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel

Apa yang Diinginkan Seorang Perempuan ?


Setelah kalah dalam berperang, seorang pangeran diberi kesempatan setahun oleh musuhnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan, "Apa yang diinginkan perempuan?" Kalau dalam setahun tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut, sang pangeran akan digantung.

Bertanya kesana-kemari, tak ada satupun jawaban yang memuaskan. Akhirnya ketika satu tahun hampir lewat, seseorang memberinya saran untuk bertanya kepada seorang nenek sihir. Ketika pangeran menemukan si nenek sihir dan menanyakan pertanyaan tersebut, si nenek sihir mengatakan bahwa ia hanya akan menjawab jika sahabat pangeran yang bernama Peter mau mengawininya.

Pangeran tentu saja tidak tega untuk menikahkan sahabatnya dengan nenek sihir yang selain jelek juga bau. Akan tetapi Peter yang merasa banyak berhutang budi dan ingin menunjukkan baktinya, mengatakan bahwa ia sanggup mengawini nenek sihir tersebut.

Jawaban nenek sihir: Apa yang benar-benar diinginkan perempuan adalah diberi kebebasan mengatur hidupnya sendiri. Jawaban tersebut diterima dan pangeran terbebas dari tiang gantungan.

Sementara itu Peter dengan berdebar-debar agak takut memasuki kamar pengantinnya. Ia sangat terperanjat ketika di atas ranjang terbaring seorang perempuan yang cantik jelita dan seksi. "Kamu siapa..?" tanya Peter tak mengerti. "Karena kamu sangat baik terhadapku, setengah hari aku akan menjadi nenek sihir dan setengah harinya lagi aku akan menjelma menjadi putri yang paling cantik. Sekarang, terserah kamu, mau pilih mana, apakah siang sebagai nenek sihir dan malam jadi putri atau sebaliknya," kata perempuan tersebut.

Peter pun bingung. Di satu sisi, ia ingin menunjukkan kepada semua orang betapa cantiknya istrinya, tapi ia juga takut nanti ada yang ingin merebutnya. Kalau istrinya menjelma jadi putri cantik di malam hari, hanya ia yang akan 'menikmatinya'.

Akhirnya Peter menyerahkan keputusan tersebut kepada sang putri. "Kalau begitu aku akan menjelma jadi putri cantik sepanjang waktu, karena kamu telah memberiku apa yang diinginkan perempuan, yaitu kebebasan untuk mengatur hidupku sendiri," kata sang putri. "Yang diperlukan oleh seorang perempuan adalah kebebasan untuk mengungkapkan siapakah dirinya.

readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel

Cinta Apa Adanya


Tahun itu dia mendadak muncul, Xiao Cien namanya. Tampangnya tidak seberapa. Di bawah dukungan teman sekamar, dengan memaksakan diri aku bersahabat dengan dia. Secara perlahan, aku mendapati bahwa dia adalah orang yang penuh pengertian dan lemah lembut.

Hari berlalu, hubungan kami semakin dekat, perasaan di antara kami semakin menguat, dan juga mendapat dukungan dari teman-teman. Pada suatu hari di tahun kelulusan kami, dia berkata padaku, "Saya telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, tetapi di Amerika, dan saya tidak tahu akan pergi berapa lama, kita bertunangan dulu, bolehkah?" Mungkin dalam keadaan tidak rela melepas kepergiannya, saya mengangguk.

Oleh karena itu, sehari sesudah hari wisuda, hari itu menjadi hari pertunangan kami berdua. Setelah bertunangan tidak berapa lama, bersamaan dengan ucapan selamat dan perasaan berat hati dalam hatiku, dia menaiki pesawat dan terbang menuju sebuah negara yang asing. Saya juga mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus, memulai hari bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Telepon internasional merupakan cara kami untuk tetap berhubungan dan melepas kerinduan.

Suatu hari, sebuah hal yang naas terjadi pada diriku. Pagi hari, dalam perjalanan menuju tempat kerja, sebuah taksi demi menghindari sebuah anjing di jalan raya, mendadak menikung tajam.....

Tidak tahu lewat berapa lama saya pingsan. Saat siuman telah berada di rumah sakit, dimana anggota keluarga menunggu mengelilingi tempat tidur saya. Mereka lantas memanggil dokter.

"Pa?" saya ingin memanggilnya tapi tidak ada suara yang keluar. Mengapa? Mengapa saya tidak dapat memanggilnya? Dokter mendatangiku dan memeriksa, suster menyuntikkan sebuah serum ke dalam diriku, mempersilahkan yang lainnya untuk keluar terlebih dahulu.

Ketika siuman kembali, yang terlihat adalah raut wajah yang sedih dari setiap orang, sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa saya tidak dapat bersuara? Ayah dengan sedihnya berkata, "Dokter bilang syaraf kamu mengalami luka, untuk sementara tidak dapat bersuara, lewat beberapa waktu akan membaik."

"Saya tidak mau!" saya dengan berusaha memukul ranjang, membuka mulut lebar-lebar berteriak, tapi hanya merupakan sebuah protes yang tidak bersuara. Setelah kembali ke rumah, kehidupanku berubah. Suara telepon yang didambakan waktu itu, merupakan suara yang sangat menakutkan sekarang ini. Saya tidak lagi keluar rumah, juga menjadi seorang yang menyia-nyiakan diri, ayah mulai berpikir untuk pindah rumah. Dan dia? di belahan bumi yang lain, yang diketahui hanyalah saya telah membatalkan pertunangan kami, setiap telepon darinya tidak mendapatkan jawaban, setiap surat yang ditulisnya bagaikan batu yang tenggelam ke dasar lautan.

Dua tahun telah berlalu, saya secara perlahan telah dapat keluar dari masa yang gelap ini, memulai hidup baru, juga mulai belajar bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Suatu hari, Xiao Cien memberitahu bahwa dia telah kembali, sekarang bekerja sebagai seorang insinyur di sebuah perusahaan. Saya berdiam diri, tidak mengatakan apapun. Mendadak bel pintu berbunyi, berulang-ulang dan terdengar tergesa-gesa. Tidak tahu harus berbuat apa, ayah menyeretkan langkah kakinya yang berat, pergi membuka pintu.

Saat itu, di dalam rumah mendadak hening. Dia telah muncul, berdiri di depan pintu rumahku. Dia mengambil napas yang dalam, dengan perlahan berjalan ke hadapanku, dengan bahasa isyarat yang terlatih, dia berkata, "Maafkan saya! Saya terlambat satu tahun baru menemuimu. Dalam satu tahun ini, saya berusaha dengan keras untuk mempelajari bahasa isyarat, demi untuk hari ini. Tidak peduli kamu berubah menjadi apapun, selamanya kamu merupakan orang yang paling kucintai. Selain kamu, saya tidak akan mencintai orang lain, marilah kita menikah!"

readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel

Pohon, Daun, dan Angin

"Daun terbang karena Angin bertiup atau Pohon tidak memintanya untuk tinggal" 

POHON

Orang-orang memanggilku "Pohon", itu semua karena aku sangat ahli dalam menggambar sebuah pohon. Karena itu  setiap membuat suatu lukisan, aku selalu menambahkan gambar pohon di sisi kanan bawah sebagai tanda dalam semua lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak lima kali sewaktu masih SMA, dan ada seorang wanita yang sangat aku sayangi. Namun, aku tidak pernah memilki keberanian untuk mengungkapkannya.

Wajahnya tidaklah cantik, tidak seksi, tapi dia sangat peduli kepada orang lain. Aku menyukainya, bahkan sangat menyukainya. Menyukai gayanya yang santai dan apa adanya, kemandiriannya, kepandaiannya dan kekuatannya, semua membuatku kagum.

Tapi aku tidak pernah mengajaknya untuk berkencan, karena yang ku rasakan, dia sangat biasa dan tidak serasi untukku. Aku juga takut, jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang. Dan aku juga takut, kalau gosip-gosip yang ada akan menyakitinya. Aku merasa dia adalah "sahabatku" dan aku akan memilikinya tiada batas dan tidak harus memberikan semua hanya untuknya.

Selama tiga tahun ini, dia tahu kalau aku mengejar gadis-gadis lain. dan itu telah membuatnya menjadi sering menangis selama 3 tahun.

Ketika aku mencium pacarku yan kedua, dan ia melihatnya. Dia hanya tersenyum kepadaku, dengan berwajah merah dia berkata "lanjutkan saja" lalu pergi meninggalkan kami. Esoknya, kudapati matanya bengkak dan merah.

Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkan dia menangis. Ketika kelas sudah kosong, dan semua telah pulang, dia masih tinggal sendiri di dalam kelas untuk menangis. Waktu itu aku kembali dari latihan sepakbola untuk mengambil sesuatu di kelas, dan aku melihatnya menangis selama sejaman.

Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya, pernah mereka berdua terlibat perang dingin. Aku tahu kalau bukan sifatnya untuk memulai pertengkaran. Tapi aku tidak memperdulikannya, dan masih tetap bersama pacarku. Aku pernah berteriak padanya, dan itu membuat matanya penuh dengan kesedihan. Aku tidak memikirkan perasaannya dan malah pergi meninggalkannya bersama pacarku. Esok hari, kami kembali akrab dan tertawa penuh canda bersama seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tahu, bahwa ia sangat sedih dan kecewa, tapi ia tidak tahu kalau sakit hati yang aku rasakan sama buruknya dengan yang ia rasakan.

Ketika aku putus dengan pacar yang ke 5, untuk pertama kali aku mengajaknya untuk pergi. Setelah kencan itu, aku mengatakan sesuatu kepadanya, bahwa ada sesuatu yang ingin aku katakan. Lalu dia menjawab,  "kebetulan sekali, aku juga ingin mengatakan sesuatu kepadamu..."

Aku bercerita padanya kalau kini sudah putus dengan pacarku, dan dia bercerita sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang. Katanya, pria itu sering mengejarnya selama ini, seorang pria yang baik, penuh energi dan menarik.

Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakitnya hatiku, aku hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika aku sampai di rumah, kekecewaanku bertambah kuat sampai-sampai aku tidak sanggup menahannya.

Akupun hanya bisa menagisi kebodohanku selama ini. Ketika upacara kelulusan tiba, aku membaca sebuah SMS yang sudah lama dikirim, mungkin sekitar 10 hari yang lalu saat aku terakhir kali berbicara dengannya. SMS itu berbunyi, "Daun terbang karena Angin bertiup, atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal...?".

***

DAUN

Dulu saat masih SMA, aku suka sekali mengoleksi dedaunan. Mengapa...? Karena aku merasa bahwa, daun meninggalkan sebuah pohon ditinggalinya yang selama ini, membutuhkan banyak kekuatan.

Selama 3 tahun di SMA, aku dekat dengan seorang pria. Dia bukanlah pacarku, tapi ia "Sahabat" ku. Ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kali, aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, yaitu cemburu. Mereka hanya bersama selama dua bulan. Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembira. Tapi, sebulan kemudian dia kembali bersama seorang gadis.

Aku menyukainya dan aku tahu bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia tidak mau mengatakannya? Sejak dia mencintaiku, mengapa dia tidak pernah memulainya untuk melangkah?

Ketika dia berganti pacar baru lagi, hatiku semakin sakit. Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi mengapa dia memperlakukanku dengan sangat baik, bila ia hanya menganggapku sebagai seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati, aku tahu kesukaannya, kebiasaannya. Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui. Kau tidak mengharapkan seorang wanita untuk mengatakannya lebih dulu bukan?

Di luar dari itu, aku mau tetap disampingnya. Memberikannya perhatian, menemaninya, dan mencintainya. Berharap, bahwa suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku. Aku tahu, sesibuk apapun, dia pasti meluangkan waktunya untukku. Karena itu, aku rela menunggunya selama 3 tahun, meski cukup berat untuk kulalui.

Ketika diakhir tahun ke 3, ada seorang pria lain mengejarku, dia adalah adik kelasku. Setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Dari penolakan-penolakan yang telah ku alami, aku merasa bahwa ada baiknya memberikan dia ruang kecil di hatiku.

Dia seperti angin yang hangat dan lembut, yang mencoba meniup daun untuk terbang jauh dari pohon. Aku tahu, angin itu akan membawa pergi sehelai daun yang lusuh tebang jauh ke tempat yang lebih baik, dan akhirnya daun pun meninggalkan pohon itu. Tapi pohon hanya tersenyum dan tidak meminta daun untuk tinggal, aku sangat sedih melihatnya tersenyum ke arahku.

"Daun terbang karena Angin bertiup atau Pohon tidak memintanya untuk tinggal"

***

ANGIN

Karena aku menyukai seorang gadis bernama Daun, karena dia sangat bergantung pada Pohon, maka aku harus menjadi Angin yang kuat untuk menerbangkannya.

Ketika aku baru pindah sekolah, aku melihat seorang memperhatikan kami bermain sepakbola. Ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman-temannya memperhatikan Pohon. Ketika Pohon berbicara dengan gadis-gadis, ada cemburu di matanya. Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya. Memperhatikannya menjadi kebiasaanku, seperti daun yang suka melihat Pohon. Suatu hari, dia tidak tampak, dan itu membuatku merasakan kehilangan.

Seniorku juga tidak ada saat itu, maka aku pun pergi menuju kelas mereka. Melihat seniorku sedang memperhatikan daun, air mata mengalir di pipiku. Esoknya, aku melihat daun sedang berada di tempat biasanya tengah memperhatikan Pohon. Aku lalu melangkah menghampiri dan tersenyum kepadanya, lalu menulis sebauh catatan dan memberikan kepadanya. Dia melihat ke arahku sambil tersenyum dan menerima catatan dariku.

Esoknya, daun menghampiriku dan memberikan sebuah catatan.  Ternyata, hati daun sangat kuat dan Angin tak bisa meniupnya pergi.

Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukai aku. Selama empat bulan, Aku telah mengucapkan kata Cinta sebanyak 20 kali kepadanya. Setiap kali aku mengucapkannya, dia selalu mengalihkan pembicaraan kepada pohon. Tapi aku tidak menyerah, aku memutuskan untuk terus-dan terus mengajaknya terbang bersamaku. 

Suatu hari aku meneleponnya dan bertanya, "Apa yang kau lakukan, kenapa kau tidak pernah membalas pesanku?", dia menjawab, "Aku selalu menengadahkan kepalaku".

"Apa...?" Aku tidak percaya apa yang aku dengar.

"Aku menengadahkan kepalaku" dia berteriak.

Segera akumeletakkan telepon, dan berlari ke rumahnya. Saat dia membuka pintu, aku langsung memeluknya dengan erat.

"Daun terbang karena tiupan Angin atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal".
readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel

Makan Malam Romantis


Setelah 20 tahun menikah, saya tiba-tiba menemukan cara baru dalam menyalakan api cinta kami. Api yang muncul tak terduga dari orang-orang yang begitu berharga. Tapi rasa cinta itu jarang saya sadari kehadirannya, mungkin karena sudah terlalu terbiasa dengannya.

Ceritanya bermula dari suatu waktu, istri saya menganjurkan agar saya berkencan dengan seorang perempuan lain. Tapi ketika saya protes dan mengajaknya untuk ikut, ia justru mengatakan bahwa itu acara khusus untuk saya.  Ternyata perempuan yang dimaksudnya adala Ibu saya sendiri yang telah menjanda selama 19 tahun. Saya jarang menemuinya memang karena kesibukan kerja dan mengurus keluarga dan tiga orang anak kami.

Ibu saya adalah type orang yang cepat curiga kalau menerima telepon ditengah malam, atau menerima undangan yang datangnya tiba-tiba. bagi beliau itu pasti akan membawa berita buruk. "Ada apa dengan istrimu?" kata ibu dari ujung telepon. 

"Oh..., tidak ada apa-apa bu. Saya pikir sudah lama saya tidak menemani ibu untuk makan malam dan mengajak ibu jalan. Pasti akan menyenangkan, apakah ibu mau menerima ajakan saya ini?" 

"Oh itu, ibu kira ada apa.  Baik, ibu setuju", jawabnya setelah terdiam beberapa lama.

Besok malam, sepulang kantor saya langsung ke rumah ibu. Beliau terlihat begitu gembira dan berdandan resmi sekali. Beliau kelihatan telah mendandani dirinya dengan sangat anggun, dan mengenakan gaunnya yang terbaik. Gaun yang beliau itu, adalah pakai pada pesta ulang tahun perkawinannya yang terakhir ketika ayah masih hidup. 

Ibu menyambut saya dengan senyum lebar. "Kamu tahu nak, tadi Ibu bilang keteman-teman tentang rencana kita ini. Mereka semua kaget dan merasa ikut senang seperti ibu sekarang. Mereka bilang besok pagi ingin tahu ceritanya," kata ibu seraya masuk ke dalam mobil.

Saya cuma tersenyum, lalu kami pergi ke restoran yang agak mahal. Suasananya betu elegan dan menyenangkan. Ketika kami memasuki restoran itu, ibu menggandeng lengan saya dengan hangat. 

Saya harus membacakan daftar menu karena ibu tak bisa lagi membacanya walau dengan kacamata tebal. Ketika sedang membaca daftar itu, saya berhenti sejenak melihat ibu yang sedang memandangi saya dengan senyuman. "Dulu, ibu yang membacakan kamu daftar menu ketika kau masih kecil," katanya dengan mata menerawang.

"Haha..., ibu santai saja. Sekarang giliran saya yang melayani ibu," jawab saya dengan lembut. 

Sambil makan, kami membincangkan banyak hal sehari-hari. Tidak ada topik yang istimewa, tapi obrolan  kami mengalir begitu saja sampai-sampai kami terlambat menonton film.

Disaat mengantar ibu pulang, beliau berkata di dpean pintu. "Anakku, ibu mau pergi lagi denganmu, tapi lain kali ibu yang akan bayar." Sayapun mengangguk setuju. 

Sesampai di rumah istri sayapun bertanya, "Bagaimana dengan kencanmu?"
 
"Sangat menyenangkan. Lebih dari yang saya duga. Tadinya saya tidak tahu mau ngomongin apa sama ibu." jawab saya dengan senang. 

Beberapa hari kemudian, ibu meninggal dunia karena serangan jantung. Begitu mendadak kejadian itu, sehingga saya tidak sempat berbuat apa-apa untuk menolong ibu.

Satu minggu berlalu, sepucuk surat tiba dari restoran tempat ibu dan saya makan malam. Surat itu dilampiri kopi tanda lunas, dan ada selembar kertas yang diselipkan di situ yang bertuliskan: 
"Ibu sudah bayar makan malam kita, karena rasanya tak mungkin kita makan bersama lagi. Walaupun begitu, ibu sudah bayarkan untuk dua orang, barangkali kamu bisa gunakan untukmu dan istrimu. Terimakasih ankku, undangan makan malammu begitu berarti. Dari yang mencintaimu, Ibu.
Pada detik itu, saya mengerti apa pentingnya kita mengatakan kepada orang-orang yang kita sayangi mengenai perasaan kita.  Mengatakan pada orang yang kita sayangi bahwa kita sungguh mencintainya, selagi kita sempat. Karena itu, katakanlah cinta, jangan pernah menunggu. Siapa tahu, ketika cinta itu kita tahan saat akan mengucapkannya, orang  itu sudah tidak ada lagi.

readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel

Kasih Seorang Adik


Aku memiliki seorang adik laki-laki yang usianya berbeda tiga tahun lebih muda dariku. Suatu hari, aku sangat ingin memiliki sehelai sapu tangan yang saat itu menjadi tren dikalangan anak gadis seusiaku. Karena tidak meiliki uang, maka aku mengambil Rp. 50 ribu dari saku celana ayah.

Sore itu sepulang sekolah, ayah memanggil kami berdua. Beliau memegang sebatang rotan yang cukup panjang dan meminta kami berdua berdiri di tepi dinding. "Siapa yang mencuri uang ayah?" tanya ayah dengan sangat marah.

Namun kami berdua hanya diam membisu tanpa berani menatap mata ayah. "Baik, kalau tak ada yang mau mengaku, kalian berdua, akan ayah pukul dengan rotan!" ucap ayah dengan mengangkat rotan siap untuk memukulku lebih dulu.

Tiba-tiba, adikku menangkap tangan ayah dengan kedua belah tangannya dan berkata, "Saya yang ambil!" Belum sempat adik menarik nafas setelah mengungkapkan kata-kata itu, ayunan rotan langsung mengenai tubuhnya. Beberapa pukulan mengenai tubuhnya dan menjadikanku gemetar melihat hal itu.

"Kamu sudah mulai belajar mencuri di rumah sendiri. Bagaimana kelak, kalau sekarang saja kamu sudah berani mencuri?" bentak ayah kepada adikku.

Malam itu, kulihat ibu mencoba mengobati luka-luka di tubuh adik sambil menitikkan air matanya. Namun adik kelihatan cukup tabah menerima hal itu, bahkan ia tidak menangis sama sekali. Melihat hal itu, aku tak dapat lagi menahan air mata, aku menangis sekuat hati, kesal dengan sikapku yang tidak berani jujur bahkan telah membuat adik kecilku menderita. Tapi adik segera menutup mulutku dengan kedua belah tangannya, lalu ia berkata, "Kakak jangan menangis, semuanya sudah terjadi!"

Beberapa tahun telah berlalu. Adik mendapat beasiwa untuk belajar di sebuah sekolah internasional yang mewajibkan siswanya tinggal di asrama. Dan aku sendiri kini ingin melanjutkan pendidikanku kesebuah universitas yang cukup bergengsi.

Suatu malam, aku mendengar ayah berkata kepada ibu, "Mah, ayah sangat senang sekaligus bagga, keedua anak kita sangat berprestasi dalam belajar!" 

Namun kudengar suara lirih ibu menanggapinya, "Tapi bagaimana caranya bang... !" Di mana kita mencari uang untuk membiayai mereka?"

Tibaba-tiba adikku keluar dari kamarnya. Sambil berdiri di depan ayah dan ibu ia berkata. "Ayah, saya tak ingin sekolah lagi!"

Mendengar kata-kata adik, perlahan ayah bangun dari duduknya sambil menatap wajah ibu, lalu wajah adikku dalam-dalam. Plakkk.. Sebuah tamparan yang cukup keras singgah di pipinya. Tapi, seperti biasa aku hanya menutup muka dan menangis tanpa berbuat apapun.

"Kenapa kamu ini? Tahu tidak, meski ayah terpaksa harus mengemis untuk menyekolahkanmu, tetap ayah akan lakukan!" "Kamu adalah satu-satunya anak laki-laki dikeluarga ini. Dan kamu harus menyelesaikan pendidikanmu."

Malam itu aku menemui adikku di kamarnya, aku memujuknya agar tetap melanjutkan sekolahnya. Tapi adik tidak berkata apa-apa, ia hanya menunduk saja.

Keesokan harinya ibu tampak bingung mencari adik karena tidak ada di kamarnya. Ternyata ia telah kabur dari rumah dengan membawa beberapa baju lusuh yang ia punya. Hanya secarik kertas yang ia tinggalkan di atas ranjang.

"Kak... untuk dapat peluang masuk ke universitas seperti itu bukanlah perkara mudah. Biarlah saya yang mengalah, saya akan mencari kerja dan akan mengirimi kakak uang buat kuliah."

Apa lagi yang aku tahu selain menangis saja. Dan ayah tampak termenung, jelas ia cukup kecewa. Begitu juga ibu yang terus menagisi adik.

Akhirnya akupun masuk ke universitas itu. Pada suatu petang ketika sedang beristirahat di asrama, teman sekamar memanggilku, "Ada pemuda kampung yang menunggumu di luar!" katanya.

"Pemuda kampung?" bisikku. "Siapa?" Dengan tergesa-gesa aku keluar dari kamar. Dari jauh aku melihat adik berdiri dengan pakaian lusuhnya yang dipenuhi lumpur dan semen.

Aku cepat-cepat menghampirinya, "Dik, kenapa kau sebut orang kampung, sebutlah adikku!"

Sambil tersenyum dia menjawab, "kak lihatlah pakaian saya ini. Apa yang akan teman-teman kakak katakan kalau mereka tahu saya adik kakak?" Jantungku terasa berhenti berdenyut mendengar jawapannya. Aku sangat tersentuh. Tanpa sadar, air mata mengalir di pipiku. Dalam suara antara terdengar dan tidak, aku bersuara, "Kakak tak peduli apa yang akan orang lain bilang, kakak bangga memiliki adik sepertimu."

Adik lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. ternyata itu sebuah jepit rambut cantik berbentuk kupu-kupu. Lalu ia mengenakannya pada rambutku sambil berkata, "Kak, saya melihat banyak gadis memakai jepit rambut seperti ini, makanya saya tertarik untuk membelikannya satu untuk kakak." Aku terdiam mendengar kata-kata adik, tanpa sepatah kata pun aku rangkul dia erat-erat.

Setelah beberapa tahun, akhirnya pendidikanku di universitas berhasi kutamatkan. Segera saja aku pulang ke kampung untuk menemui ibu dan ayah. Setibanya di rumah aku sedikit kagum, karena rumahku yang dulu aku tinggalkan untuk kuliah sangat jelek, tapi kini kelihatan rapi.

Di depan pintu kulihat ibu sedang berdiri menantiku. "Bu, rumah kita sekarang menjadi lebih baik, apakah ibu dan ayah yang memperbaikinya?"

Dengan senyum di bibirnya ibu menjawab "Adikmu yang memperbaikinnya sampai tangannya terluka. Dia pulang kemarin, dan katanya ia ingin menyambutmu"

Segera saja aku berlari kekamar adikku. Adik tampak tersenyum melihatku, langsung saja kudekap dia. "Sakit kak?" teriaknya yang kudekap dengan erat. "Kata ibu tanganmu terluka saat memeprbaiki rumah kemarin"

"Ah.. ini cuma luka biasa saja, semasa saya menjadi kuli, kerikil dan serpihan pasir jatuh seperti hujan menimpa saya setiap saat. Tapi semua itu bukan apa-apa karena saya ingin bekerja untuk megirimi kakak uang." Aku hanya menagis seperti biasa, mendengar kata-kata adik.

Diusia ke 27 tahun aku menikah. Suamiku adalah seorang pengusaha yang cukup sukses, ia menawarkan sebuah pekerjaan kepada adik untuk mengelola salah saru toko miliknya. tapi adik menolaknya, ia berkata kalau ia terima pekerjaan itu, apa tanggapan orang terhadap sumiku, ia tak punya pendidikan. Katanya lagi,  biarlah ia bekerja dengan kemampuan yang ia miliki saja." 

"Dik, kamu tidak melanjutkan sekolah kerana ingin kakak kuliah, biarlah kali ini kakak membalas semua kebaikanmu." kataku mebujuknya.

"Sudah, lupakan saja kak. Itu semua adalah masa lalu?" katanya ringkas.

"Dik mengapa kau lakukan ini, apakah kau tidak menyayangi kakak lagi?" tanyaku.

Spontan adik menjawab, "Ka, di dunia ini selain ayah dan ibu, kakaklah yang paling saya sayangi".

"Mengapa?" tanyaku mendesak.

"Dulu semasa kita sama-sama masih Sekolah Dasar, setiap hari kita berjalan bersama menuju ke sekolah. Suatu hari sol sepatu saya lepas. Dan melihat saya hanya memakai sebelah sepatu, kakak membuka sepatu kakak dan memberikannya pada saya. Sampai di rumah saya melihat kaki kakak berdarah akibar tertusuk-tusuk batu kerikil." "Sejak itulah saya berjanji pada diri saya akan melakukan apapun demi kebahagiaan kakak. Saya berjanji akan menjaga kakak sampai kapanpun."

Kini adikku tetap tinggal di kampung. Setelah ayah kami tiada, ia melanjutkan pekerjaan ayah menggarap ladang. Beberapa bulan kemudian ia menikah dengan seorang gadis cantik di desa kami, dan hidup bahagia dengan anak-anak mereka.

readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel

Cinta Tak Bersyarat


Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, "Kakek, Nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara Kakek dan Nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar."

Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. "Aha, Nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian ," kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. "Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul ‘bagaimana memperkuat tali pernikahan'. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. 

Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir -pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini," kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu nenek melanjutkan, "Nenek membacanya hingga s elesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita." Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. "Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi kosong. Kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adal ah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek."

Nenek segera menimpali, "Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apa pun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua."

Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Aku yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jik a kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal -hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.

readmore »»   http://3.bp.blogspot.com/-FKB-bxL3OqE/UIhFrTOWvJI/AAAAAAAAAMs/hAm141vpVbw/s640/Petua+Isteri+Tewaskan+Suami+Di+Bilik+Tidur.jpg
video ml di hotel